Senin, 07 Juni 2010

ETIKA DAN MORAL ADMINISTRASI

ETIKA DAN MORALITAS ADMINISTRASI
Oleh : H. Mulkanasir, BA., S.Pd. MM.
( Dosen FIDKOM UIN Jakarta )

1. Pengetian Etika dan moral.

Pengertian yang paling mendasar etika adalah merupakan sistem nilai yang berada pada pribadi seseorang yang digunakan untuk memutuskan apa yang benar dan apa yang salah, atau apa yang paling tepat dan apa pula yang kurang tepat, apa yang pantas aan apa pula yang tidak pantas dalam suatu situasi tertentu. BIsa juga bahwa etika itu adalah system nilai yang ada dalam sebuah organsasi ataupun proses tertentu dalam suatu sistem tertentu untuk memutuskan apa yang baik dan tidak baik, apa yang pantas dan tida apa yang memenuhi prosedur, dimana semua dianggap sebagai sebuah nilai dalam organsiasi yang harus ditaati secara konsisten.
Kata etika berasal dari bahasa Yunani, ethos atau taetha yang berarti tempat tinggal, padang rumput, kebiasaan atau adat istiadat. Aristoteles seorang failasof Yunani, etika digunakan untuk menunjukkan filsafat moral yang menjelaskan fakta moral tentang nilai dan norma moral, perintah, tindakan kebajikan dan suara hati.
Kata yang agak dekat dengan pengertian etika adalah moral. Kata moral berasal dari bahasa Latin yaitu mos atau mores yang berarti adat istiadat, kebiasaan, kelakuan, tabiat, watak, akhlak dan cara hidup. Secara etimologi, kata etika (bahasa Yunani) sama dengan arti kata moral (bahasa Latin), yaitu adat istiadat mengenai baik-buruk suatu perbuatan.
Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1988) dipaparkan makna kata etika yang berasal dari bahasa Yunani ethos, seperti tersebut diatas memeiliki tiga pengertian, yaitu:
a. Ilmu tentang apa yang baik dan buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak).
b. Kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak.
c. Nilai mengenai benar dan salah yang dianut oleh suatu golongan atau masyarakat.
K. Berten dalam bukunya Etka (Seri Filsafat Atmajaya: 15/1997: 6) mempertajam rumusan makna dalam kamus tersebut di atas, menyatakan: pertama, kata etika bisa dipakai dalam arti: nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan seseorang atau sesuatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Kedua, etika berarti juga kumpulan asas atau nilai moral, yang dimaksud di sini adalah kode etik, seperti “Etika Rumah Sakit Indonesia (1986). Ketiga, etika mempunyai arti “ilmu tentang yang baik atau buruk”.
Kata etika sangat dekat maknanya dengan kata moral. Kata moral yang berasal dari kosa kata bahasa Latin (berasal dari kata mos bentuk singular, mores bentuk jamak) yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1988) disamakan maknanya dengan kata etika. Jika sekarang kita memandang arti kata moral, perlu kita simpulkan bahwa artinya sama dengan etika menurut arti pertama tadi, yaitu nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau sesuatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya.
Tetapi sebenarnya moral dan etika tidak bisa disamakan begitu saja, karena moral lebih mengacu pada baik-buruknya manusia sebagai manusia, menuntun manusia bagaimana seharusnya ia hidup atau apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan. Sedangkan etika adalah ilmu, yakni pemikiran rasional, kritis dan sistematis tentang ajaran-ajaran moral. Etika menuntun seseorang untuk memahami mengapa atau atas dasar apa ia harus mengikuti ajaran moral tertentu. Jadi etika dapat disebut sebagai filsafat moral. Etika dipakai untuk yang lebih umum/ konseptual/ prinsipal. Dan moral dipakai untuk yang lebih khusus/ spesifik. Jadi etika adalah prinsip-prinsip moral. Contohnya etika berbicara tentang prinsip kesetiaan, berdasarkan prinsip itu, moral berbicara tentang perceraian. Ada moral yang membolehkan dan ada yang menentang perceraian, tetapi prinsipnya sama.

2. Etika dan Moral

Moral memuat pandangan tentang nilai dan norma moral yang terdapat pada sekelompok manusia. Ajaran moral mengajarkan bagaimana orang harus hidup. Ajaran moral merupakan rumusan sistematik terhadap anggapan tentang apa yang bernilai serta kewajiban manusia.
Etika merupakan ilmu tentang norma, nilai dan ajaran moral. Etika merupakan filsafat yang merefleksikan ajaran moral. Pemikiran filsafat mempunyai 5 ciri khas yaitu bersifat rasional, kritis, mendasar, sistematik dan normatif (tidak sekadar melaporkan pandangan moral melainkan menyelidiki bagaimana pandangan moral yang sebenarnya). Pluralisme moral diperlukan karena:
a. Pandangan moral yang berbeda-beda karena adanya perbedaan suku, daerah budaya dan agama yang hidup berdampingan
b. Modernisasi membawa perubahan besar dalam struktur dan nilai kebutuhan masyarakat yang akibatnya menantang pandangan moral tradisional
c. Berbagai ideologi menawarkan diri sebagai penuntun kehidupan, masing-masing dengan ajarannya sendiri tentang bagaimana manusia harus hidup.

3. Etika dan Moralitas

Etika bukan sumber tambahan moralitas melainkan merupakan filsafat yang mereflesikan ajaran moral. Pemikiran filsafat mempunyai lima ciri khas yaitu rasional, kritis, mendasar, sistematik dan normatif. Rasional berarti mendasarkan diri pada rasio atau nalar, pada argumentasi yang bersedia untuk dipersoalkan tanpa perkecualian.
Kritis berarti filsafat ingin mengerti sebuah masalah sampai ke akar-akarnya, tidak puas dengan pengertian dangkal. Sistematis artinya membahas langkah demi langkah.
Normatif menyelidiki bagaimana pandangan moral yang seharusnya.
Moralitas adalah sifat moral atau keseluruhan asas dan nilai yang berkenaan dengan baik buruk (Berten, 1997:7). Di samping kata moral seperti tersebut di atas, kita masih mendengar atau membaca istilah amoral dan immoral. Menurut K. Berten, kata amoral diartikan sebagai netral dari sudut moral atau tidak mempunyai relevansi etis, sedangkan immoral berarti bertentangan dengan moralitas yang baik. Masih terkait dengan moral dan etika dan etiket. Etiket lebih menekankan pada sopan santun, di samping berarti label.
Pengungkapan korupsi sebagai salah satu wujud perbuatan yang bertentangan dengan etika dan moralitas bangsa, karena hal ini yang paling berdampak, yakni kerugian dan penderitaan masyarakat luas atas perilaku segelintir dari para koruptor, di samping itu perbuatan yang bertentangan dengan etika dan moralitas lainnya adalah pelacuran dengan adanya beberapa lokasi PSK yang sangat besar di beberapa kota di Indonesia, pelanggaran hak azasi manusia (HAM), terorisme yang mengguncangkan bangsa Indonesia sejak beberapa tahun yang lalu, yang memberi citra negatif kepada bangsa ini sebagai bangsa yang belum mampu mengatasi teroris dan menjadikan warga negara asing (khususnya wisatawan) membatalkan keinginannya untuk berlibur di Indonesia. Permasalah korupsi dan berbagai bentuk pelanggaran etika dan moralitas bangsa ini merupakan sebuah ancaman yang besar yang dapat menghancurkan sendi-sendi kebangsaan (integritas bangsa) Indonesia yang mesti disadari oleh seluruh bangsa Indonesia untuk dicarikan solusi guna memecahkan dan mengatasinya

4. Etika Administrasi

Etika administrasi merupakan adalah merupakan sistem nilai yang berada pada proses pelaksanaan administrasi yang digunakan untuk memutuskan apakah proses pelaksanaan adaministrasi itu benar apa salah, paling tepat apa kurang tepat, fenomena ini menjadi penting dalam proses pelaksanaan administrasi. Etika administrasi akan mampu memberikan sumbangan dalam usaha mendapatkan suatu pemahaman, penglihatan, dan pandangan yang tajam terhadap suatu realita yang harus dihadapi dalam rangka mengimplementasikan berbagai aktivitas yang telah ditetapkan oleh administrasi, terutama menghadapi permasalahan-permasalahan yang serba sulit. Secara realita, bagaimana menimbang-nimbang kategori gagasan etika yang lebih mutakhir untuk memahami secara adil dan arif adalah suatu tindakan manusia dalam pergaulan hidup.
Etika seperti telah diselaskan diatas adalah suatu tatanan atau aturan hidup pada komunitas manusia tertentu. Dalam kehidupan komunitas manusia tertentu, senantiasa memiliki etika yang memungkinkan adanya perbedaan antara komunitas manusia yang satu dengan komunitas manusia yang lainnya. Implementasi etika menganjurkan bertindak dengan baik dan benar dalam suatu struktur sosial yang bersangkutan. Bagaimanakah bertindak dengan baik dan benar itu? Jawabnya adalah bertindak dengan baik dan benar sesuai materi atau content dari anjuran etika tersebut.

a. Implementasi Etika Administrasi

Bagaimana etika administrasi dapat dimengerti? Hal ini dapat dimengerti dengan memahami ilmu administrasi yang berangkat dari pemikiran sampai kepada tindakan atau perbuatan manusia. Oleh sebab itu, etika administrasi diawali dari bagaimana berpikir yang baik dan benar, kemudian bagaimana pula mengimplementasikannya. Hal tersebut memerlukan suatu proses yang cukup panjang. Karena mau tidak mau harus melalui berbagai ujian, evaluasi atau penilaian, pembuktian, dan semacamnya, yang kesemuanya itu pengendaliannya berada pada etika.
Manusia secara biologis diciptakan dengan kelengkapan yang cukup untuk mempertahankan hidupnya dalam pengaturan dan keteraturan berinteraksi antara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya, di mana pengaturan dan keteraturan ini landasan utamanya adalah etika. etika manusia setiap saat dapat saja mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan ling¬kungan sekitar dan pemikiran manusia itu sendiri.
Etika ilmu administrasi bersumber kepada fakta bahwa kaidah dan .aturan dalam suatu kehidupan komunitas masyarakat manusia tertentu, antara satu sama lain, mengalami perkembangan dengan berbarengan. Pendekatan etika memiliki banyak persoalan antara lain yang melaksanakan etika itu, kandungan dari etika, waktu dan tempat pelaksanaan etika, dan masih banyak persoalan-persoalan lainnya dalam kehidupan manusia, baik secara individu maupun secara berkelompok.
Pelaksanaan etika dalam kehidupan yang mempunyai beraneka ragam aktivitas maupun asal usul manusia dapat menciptakan persoalan-persoalan antara etika manusia yang satu dengan etika manusia yang lain, yang bersama-sama berinteraksi dalam kehidupan. Untuk kelancaran berinteraksi, etika masing-masing akan terlebur dalam etika situasional. Situasi seperti ini menggunakanpendekatan individualistis yang mengubah absolutisme aturan-aturan menjadi absolutisme kesadaran murni pribadi manusia.


b. Etika Situasional

Etika situasionali lebih banyak dipergunakan dalam administrasi, maksudnya dalah bahwa etika adaministrasi ini terkadang berubah mengikuti situasi yang berkembang pada saat tertentu. Mengapa demiukian, karena manusia adalah makhluk yang secara naluri tidak bisa meninggalkan kerja sama diantara mereka apalagi ketika secara bersama-sama mereka ingin mencapai tujuan yang secara bersama-sama telah ditentukan sebelumnya. Dalam pelaksanaan kerja sama antar individu, telah terjadi pertukaran sitem etika karena masing-masing membawa sitem etika yang berbeda. Atas dasar proses tersebut maka akan muncul etika situasional dalam penerapan aktivitas sebagai sebuah etika.
Dalam mengimplementasikan etika pada proses pelaksanaan adminitrasi, perlu difahami terlebih dahulu bahwa administrasi bukanlah merupakan suatu pedoman hidup yang mengandung kebenaran mutlak. Sesungguhnya terserah kepada masing-masing individu, yang terlibat dalam proses kerja sama untuk mencapai tujuan yang telah disepakati sebelum¬nya, untuk menemukan apa yang dianggap suatu kebenaran etika dalam proses kerja sama itu.
Memang sudah menjadi kenyataan bahwa apa yang menjadi kebenaran pada hari ini akan menjadi kesalahan pada hari yang akan datang. Fenomena semacam ini dapat diberikan contoh, misalnya pada masa orde baru, sungguh banyak yang dilakukan pada masa lalu itu dan masa itu pula dianggap suatu kebenaran serta bukan suatu tindakan yang salah, tetapi dengan adanya perubahan situasi masa lalu dan masa dewasa ini mengakibatkan terjadi pergeseran hakikat etika yang benar menjadi salah dan yang salah menjadi benar.

c. Wujud etika administrasi.

Wujud etika administrasi dapat digolongkan atas dua golongan utama yaitu :
1) Akumulasi etika individu yang menjadi anggota atau bagian yang melakukan bentuk kerja sama dalam pencapaian tujuan sesuai dengan kesepakatan mereka. Akumulasi etika ini sebenarnya relatif tidak permanen, tetapi senantiasa mengalami perubahan sesuai dengan peru¬bahan anggota atau bentuk kerja sama yang berlangsung. Etika semacam ini lebih banyak bersifat tidak tertulis tetapi merupakan suatu kebiasaan untuk menciptakan ketertiban dan keteraturan. Etika semacam ini dapat diujudkan dengan sikap, semangat. Komitmen, cepat tanggap, menepati janji dan sesamanya.
2) Etika yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan, yang mengikat seluruh anggota dalam bentuk kerja sama. Etika ini merupakan aturan yang tertulis dan mengikat seluruh anggota yang melakukan bentuk kerja sama. Contoh kode etik pegawai, prosedur kerja, disiplin kerja dan sesamanya.

2. Moralitas Administrasi

Pemahaman tentang moralitas yang mendalam berarti sangat kontekstual, yang sifatnya tidak dapat diungkapkan dengan ucapan atau dalil sekalipun. Konteks moralitas adalah sesuatu yang menyenangkan, sesuatu yang memandu ke jalan yang benar, dan suatu sarana hikmat dalam kehidupan manusia. Kehidupan yang lumpuh dapat diberikan kebebasan yang diayomi moralitas sehingga dapat menunjukkan jalan yang lurus, memberikan sarana kenikmatan untuk dapat terhindar dari kesengsaraan, dan ketenangan jiwa dalam mengarungi kehidupan ini.
Persepsi tentang moralitas ini berbeda-beda antara komunitas manu¬sia yang satu dengan komunitas manusia yang lainnya. Persepsi ini tergantung pada etika yang dianutnya, di mana sasaran etika mengarah kepada pengaturan yang berintikan benar dan salah, sedangkan sasaran moral mengarah kepada keteraturan yang berintikan baik dan buruk. Oleh sebab itu, etika dan moral merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Walaupun dalam kenyataannya dapat dibedakan dalam konteks pemikiran, tetapi dalam konteks perbuatan sulit dibedakan mana kapling etika dan mana kapling moralitas.
Kalau diharuskan memberi pengertian atau definisi moralitas, dapat dikatakan bahwa kualitas perbuatan manusia yang didorong oleh gerakan kejiwaan dengan memperhitungkan benar dan salahnya serta baik dan buruknya. Kalau tindakan atau perbuatan manusia yang mengarah kepada baik dan benar, maka dia memiliki moral yang tinggi. Demikian pula sebaliknya, jika manusia itu tindakan atau perbuatannya lebih banyak mengarah kepada kesalahan dan keburukan, maka manusia yang bersangkutan dapat dikategorikan tidak bermoral.
Moralitas cenderung merupakan produk dari kematangan jiwa seorang manusia, sedangkan etika cenderung lebih mengarah pada produk rekayasa untuk menciptakan pengaturan dan keteraturan hidup manusia. Oleh sebab itu, dalam rangka pelaksanaan aktivitas administrasi, baik wujud dari pemikiran (mind) maupun wujud dari profesi, membutuhkan landasan moralitas yang baik.
Apakah moralitas dapat terwujud secara objektif atau subjektif? Moralitas objektif memandang suatu perbuatan yang dilakukan bebas dari pengaruh lingkungan, sedangkan moralitas subjektif memandang" suatu perbuatan yang sudah dipengaruhi oleh lingkungan tertentu. Tetapi perlu diingat, bahwa pengertian tersebut tidak berhubungan dengan amoral atau dengan kata lain, buruk dan salah berdasarkan pandangan moral.
Manusia dalam tindakannya senantiasa bertentangan dengan moralitas ukuran masyarakat sekitarnya. Sebenarnya manusia yang bersangkutan tidak memiliki ketenangan jiwa karena selalu merasa bersalah. Salah satu wujud dalam ilmu administrasi, manusia yang melanggar moralitas administrasi antara lain tindakan korupsi. Bagi manusia yang korupsi, dalam kehidupannya tidak akan mengalami ketenangan, tetapi senantiasa diselimuti perasaan ketakutan dan perasaan berdosa.
Sebenarnya korupsi adalah suatu penyakit keserakahan manusia. Bila menoleh ke belakang, atau bahkan sekarang ataupun masa akan datang, korupsi merupakan benalu birokrasi, benalu sosial, dan bahkan benalu dari seluruh lapisan masyarakat yang dapat merusak sendi-sendi kehidupan. Kalau menoleh bidang pemerintahan di Indonesia, fenomena menunjukkan penyakit korupsi itu sungguh sangat mengkhawatirkan, bagaikan jamur tumbuh di musim penghujan.
Apa yang dimaksud dengan korupsi? Korupsi adalah perbuatan seseorang atau sekelompok orang yang menggunakan teknik-teknik ter¬tentu, terutama pada kewenangan dan jabatan yang melekat pada individu atau sekelompok orang untuk memperoleh keuntungan dengan merugikan masyarakat atau kepentingan umum. Salah satu penyakit yang paling ditakuti dalam pengelolaan administrasi adalah penyakit korupsi, karena korupsi dapat merusak seluruh sendi-sendi kehidupan administrasi untuk menciptakan pengaturan dan keteraturan.
Apakah penyakit korupsi ini terdapat di mana-mana dan akan menjalar ke mana-mana? Serta apakah korupsi ini merupakan penyakit mora¬litas? Dalam komunitas masyarakat yang kecil dan kekerabatannya sangat tinggi, penyakit korupsi kurang atau hampir tidak ditemukan karena solidaritas sosial sangat kental, tingkat kebutuhan sangat kurang, etika sangat dihormati, dan budaya malu sangat mengakar pada diri individu masing-masing. Berbeda halnya dengan masyarakat yang komunitasnya sangat besar, kekerabatan sosial sangat renggang, tingkat kebutuhan sangat bervariasi, etika kurang dihormati, sehingga penyakit korupsi sangat gampang menular pada kondisi masyarakat seperti ini.
Korupsi bukan saja penyakit yang paling ditakuti dalam administrasi, tetapi lebih luas lagi kepada kehidupan sosial. Banyak penyakit lain di luar penyakit korupsi, antara lain kemiskinan, kejahatan, kecanduan narkoba, perjudian, perzinaan, dan lain perbuatan semacamnya. Hal ini disebut dengan penyakit administrasi (patologi administrasi), atau yang lebih luas lagi disebut penyakit sosial (patologi sosial). Untuk mengukur penyakit administrasi tersebut itulah, fongsi moralitas dalam rangka usaha pemberantasannya di muka bumi ini,
Sesungguhnya apa yang dimaksud dengan penyakit atau patologi administrasi itu? Para sosiolog menyebutkan semua perbuatan yang bertentangan dengan norma, kestabilan, kebaikan, kesederhanaan, moral, hak milik, hidup rukun, solidaritas, dan aturan hukum. Semua yang bertentangan dengan peristiwa tersebut disebut dengan patologi administrasi yang harus diberantas dengan berusaha menegakkan, atau dengan kata lain menaati ajaran (content) moralitas. Bagi masyarakat Sulawesi Selatan disebut dengan budaya siri.
Semua aktivitas atau perbuatan manusia mempunyai suatu tujuan yang mengarah kepada yang baik. Semua aktivitas atau perbuatan manusia itu mengarah kepada pencapaian tujuan akhir, dan tujuan akhir adalah merupakan hal pertama apa yang diinginkan. Apabila tidak tercapai tujuan akhir, maka tidak ada satu hal pun yang diinginkan tercapai. Dalam proses pencapaian tujuan akhir untuk memperoleh sesuatu kebaikan, maka harus berjalan secara bersama dengan penegakan ajaran (content) moralitas.
Banyak teori yang menjelaskan bahwa moralitas adalah hasil atau result dari perbuatan seseorang dengan kehendak hati nuraninya, atau dengan kata lain moralitas, sebagai hasil konvensi dari hati nurani dengan perbuatan manusia itu sendiri. Kalau hasilnya itu menggambarkan sesuatu yang baik dan benar maka perbuatan itu bermoral, tetapi sebaliknya perbuatan itu menggambarkan keburukan dan kesalahan, maka tindakan itu amoral.

Daftar Bacaan

H. Makmur, Prof., DR.,, M.Si, Filsafat Administrasi, PT. Bumi Aksara, Jakarta, 2007

http://januarsutrisnoyayan.wordpress.com/2008/10/27/apa-itu-etika/

http://www.parisada.org/index.php?option=com_content&task=view&id=505&Itemid=61

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar